Tuesday, March 10, 2009

Mari membuat Kompos

Salah satu terget Pemerintah Kota Tarakan adalah menciptakan Tarakan bebas dari sampah, beberapa kegiatan yang sekarang ini gencar di lakukan berupa kegiatan lomba kebersihan tingkat RT yang di adakan di setiap kelurahan yang ada di Tarakan selain itu adalah sosialisasi pembuatan kompos skala rumah tangga yang di adakan di setiap RT maupun di barbagai lapisan masyarakat.

Kegiatan sosialisasi yang merambah langsung pada berbagai lapisan masyarakat merupakan kegiatan yang efektif guna menekan jumlah sampah yang di hasilkan dari setiap rumah tangga. Rumah Tangga merupakan suatu organisasi yang paling dasar dimana bagian vital elemen organisasi pemerintahan, apabila elemen tersebut dapat menciptakan upaya menekan jumlah sampah yang di hasilkan maka pada tingkat elemen organisasi selanjutnya dapat akan mengukuti juga.

beberapa waktu yang lalu Pemerintah Jepang melakukan kunjungan ke Tarakan untuk melakukan survey mengenai sampah dan membantu menciptakan teknologi pengolahan sampah yang efektif, hasilnya adalah bentuan ilmu bagaimana cara membuat kompos yang dapat dilakukan oleh skala rumah tangga. Berikut ini adalah Panduan teknis pembuatan kompos skala rumah tangga dengan menggunakan keranjang takakura hasil dari sosialisasi yang diberikan oleh DKPP Kota Tarakan.

A. Peralatan & Bahan yg diperlukan dalam perakitan keranjang takakura :

1. Keranjang apapun yang mempunyai tutup dan sirkulasi udara yang baik 1 buah.
2. Karung beras bekas, yang digunakan untuk melapisi sisi dalam bagian keranjang 1 buah.
3. Bantalan yang terbuat dari kasa nyamuk dan berisi sekam/sabut kelapa kering 2 buah.
4. kain untuk pelapis bagian tutup keranjang.
5. Cetok pengaduk.
6. Bakteri Starter (NM)

B. Cara penyiapan & penggunaan keranjang takakura :

1. Persiapan :

- lapisi seluruh bagian dalam dinding keranjang dengan karung beras bekas dan jahit sisi bagian atas agar karung tidak bergeser.
- Letakan 1 buah bantalan sekam di bagian dasar keranjang yang sudah dilapisi dengan karung tersebut.
- Lalu masukan bakteri starter yang sudah dibuat, hingga minimal 1/2 dari volume keranjang yang akan digunakan.

2. Penggunaan :

- Masukan sampah organik yang sudah dicacah dan aduk agar tercamput merata dengan bakteri starter yang ada dalam keranjang.
- Letakan 1 buah bantalan sekam/sabut kelapa yang sudah di siapkan di bagian atas.
- Dan tutup dengan penutup keranjang yang sudah dilapisi dengan kain.
- Ulangi kegiatan tersebut di atas setiap memasukan sampah organik untuk di kompos.

3. Penggunaan kompos yang telah jadi :

- Setelah keranjang penuh, tutup dan diamkan selama 2 minggu.
- Kemudian di ayak untuk memisahkan antara kompos yang halus dengan yang kasar.
- kompos yang sudah halus jangan langsung digunakan, angin-anginkan terlebuh dulu selama 4 hari, setelah itu baru bisa digunakan.
- Untuk kompos yang masih kasar dilakukan kegiatan pengolahan dari awal hingga benar benar menjadi kompos yang halus.

Demikian cara membuat kompos skala rumah tangga semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, March 04, 2009

Bbbbeeeeuuuuhhhh........dapat Award....???

Selamat pagi sobat semua.... satu minggu yang melelahkan untuk saya dan mungkin akan berlanjut kedepan setelah dimulai posting panen saya beberapa hari yang lalu, berkat doa dan dukungan kawan semua Alhamdulillah tiap hari meningkat terus hasil panen kepitingnya.

Selain berkah panen, lebih gak nyangka lagi pagi ini kok bisa.....? ya dapet award dari sobat LI sama sobat Nindita, entah penilaian mereka di lihat dari mana saya akui saya mulai ngeblog masih baru banget dan blog saya belum ada apa - apanya dibandingkan dengan blog sobat semua, yang pasti saya ucapkan banyak terima kasih pada sobat semua atas kepercayaannya memberikan award kepada saya biar saya lebih SEMANGAT lagi ngeblog nya...........

Ini awardnya dari sobat Li










Ini award dari sobat Nindita

your blog is fabulous


Trims sob......

Sunday, March 01, 2009

Pendedaran Gurame

Buat sobat blogger yang punya hobby perikanan ada info baru lagi neh, salah satu usaha perikanan yang menggunakan modal lebih irit namun prospeknya sangat lumayan dan ini berguna buat pecinta budidaya perikanan air tawar. Yang sudah saya telusuri informasinya dari daerah Sukabumi ini adalah usaha pendedaran Ikan gurame.

Yang pertama sobat perlukan cuma sebuah akuarium dengan ukuran 100 cm x 50 cm dimana akuarium tersebut mampu menampung sekitar 5000 butir telur gurame, kemudian aerator pembuat gelembung udara, lalu water haeter sebagai penghangat air dalam akuarium dan sebuah bak pendedaran dengan ukuran relatif sesuai kebutuhan.

untuk memperoleh bibit sebanyak 5000 butir telur gurame sobat semua hanya memerlukan dana sebesar Rp 250.000, jadi satu butir telur di beri harga Rp 50 . Apabila berhasil menetas, selama 5 hari benih gurame tersebut masih mengkonsumsi kuning telur yang masih menempel di tubuhnya selanjutnya setelah umur mencapai 6 hari keatas diperlukan makanan tambahan berupa kuning telur rebus yang telah di hancurkan atau dengan memberikan cacing sutra.

Setelah menetes dan larva mencapai umur 2 minggu selanjutnya benih di pindahkan kedalam bak pendedaran, usahakan suhu dalam kolam pendedaran sama dengan suhu air dalam akuarium agar benih yang di pindahkan tidak stres dan mengakibatkan kematian pada benih.

Dalam kurun waktu usia benih mencapai 3 minggu biasanya benih dapat mencapai ukuran 2 - 3 cm itu artinya ikan sudah siap di jual kepada patani budidaya, dengan kisaran harga Rp 300/ekor untuk wilayah Jawa Barat. Hampir kebutuhan akan bibit gurame untuk wilayah Jawa barat belum semuanya terpenuhi.

Oke sobat semua selamat mencoba dan sukses.....

Wednesday, February 25, 2009

Tahap ke Enam (panen)

Mohon maaf sebelumnya saya sampaikan kepada rekan - rekan bloggger semalam saya tidak dapat membalas kunjungan rekan semua, karena saya memang sedang ronda betulan tapi bukan ronda keliling kampung melainkan ronda keliling tambak.

tadi malam memang sudah masuk dalam waktu proses pemanenan setelah sekitar 20 hari dari waktu penanaman bibit, setelah persiapan kemudian saya berangkat dari rumah sekitar jam 23.00 Wita, sekitar 15 menit pakai motor akhirnya sampailah di areal tambak, kebetulan 3 orang karyawan saya sudah menunggu dan menyiapkan lampu petromak.

Kenapa kita ambil waktu malam hari, karena sebagian besar kami menanam bibit di sore hari jadi proses pergantian kulit pada dilakukan dimalam hari dan apabila kita menanam bibit dipagi hari tentunya proses ganti kulit banyak dilakukan di sore hari. Proses panen pun berlaku seperti proses pengecekan bibit yang dilakukan setiap 6 jam yaitu jam 6 pagi, jam 12, jam 18.00 dan jam 24.00

Apabila sudah masuk masa panen jadwal pengecekan lebih ditingkatkan menjadi 3 jam sekali hal ini dilakukan untuk menghindari kepiting yang sudah ganti kulit terlalu lama terendam air asin , jika terlalu lama terendam air kulitnya akan kembali mengeras.

Dengan perasaan tegang sambil duduk di atas jembatan saya mencoba menarik karamba, rupanya betul dalam satu karaba ada beberapa kepiting yang sudah ganti kulit, Alhamdulillah....



Foto di atas saya ambil tadi malam setelah seluruh karamba di periksa, selanjutnya kepiting yang sudah dipanen kita bersihkan dan dibekukan dalam mesin pendingin.



Foto ini saya ambil dari hasil panen jam 3 dini hari dan jam 6 pagi. Pada saat kepiting di simpan di dalam basket kita bungkus dengan anduk basah agar kondisi kulit nya tetap lembab. Kegiatan pemanenan ini berlangsung setiap hari sampai dengan bibit yang kita tanam sudah berganti kuli semua.





Monday, February 23, 2009

Pertanyaan Besar Untuk PLN Tarakan

Selamat Pagi Indonesia....., hari senin yang cerah dan penuh semangat, mungkin ada beberapa ataupun sebagian orang yang menganggap bahwa hari senin merupakan hari yang tidak disukai. Bagi saya semua hari adalah sama karena saya tidak mengenal hari libur setiap hari saya gunakan untuk belajar dan bekerja, semoga rekan - rekan memiliki semangat yang sama.

Setiap pagi saya selalu membaca koran harian lokal, kalau mau baca harian nasional harus menunggu sore hari sambil menunggu jadwal kedatangan pesawat dari jakarta, pesawat tiba kita bisa baca korannya sore hari tapi kalau pesawat terlambat besoknya baru kita bisa baca. Itulah kalau tinggal di daerah. Namun itu bukan menjadi suatu penghalang dari mana saja kita bisa mencari informasi.

Dengan mencermati catatan perjalanan CEO Jawa Pos bapak Dahlan Iksan di Tarakan beliau memberikan catatan khusus bagi saya pribadi bahkan mungkin dapat digunakan sebagai kritik membangun bagi Pemerintah Kota Tarakan dalam hal krisis listrik sekarang ini sehingga langkah dan kebijakan apa yang dapat diambil dalam mengatasi masalah vital yang berkepanjangan di kota yang saya cintai ini.

Inilah beberapa catatan penting beliau yang saya kutip dari Harian Radar tarakan.

" SAYA ke Tarakan dan Nunukan minggu lalu yang tidak saya duga adalah masyarakat ribut soal listrik mati terus, di Nunukan kelihatannya segera dapat jalan keluar, tapi di tarakan harapanpun masih gelap. PLN nunukan cerdas sekali ketika berhasil merebut genset-genset bekas PON Kaltim yang memang tidak akan dipakai lagi.

Di Tarakan ada pertanyaan besar, besar sekali, mengapa tidak mampu mengatasi krisis listrik. Pertanyaan itu besar sekali karena PLN di Tarakan sudah dibuat berbeda dengan PLN di daerah-daerah lain. Status PLN di Tarakan bukan lagi wilayah, atau cabang atau pembantu cabang. PLN di Tarakan sudah berdiri sebagai satu perusahaan mandiri : PT PLN TARAKAN sudah punya direktur sendiri, komisaris sendiri dan organisasi sendiri.

Pertanyaan besarnya: Mengapa Direksi tidak bisa membuat keputusan sendiri ? Mengapa komisarisnya tidak menegur direksi ynag tidak membuat keputusan ? Atau, kalau direksinya sudah membuat keputusan mengapa komisarisnya diam ?

PLN di Tarakan bukan cabang atau wilayah, yang untuk memutuskan masih memerlukan petunjuk atau arahan atau sinyal atau kerdipan atau bisik-bisik atau suara gaib atau apapun dari atasannya. PLN di Tarakan tidak punya atasan . PLN Tarakan adalah atasan sendiri.

Kalau PLN tarakan tidak bisa dan tidak mampu membuat keputusan, unutuk apa PLN Tarakan diadakan? Bubarkan saja ! kembalikan saja statusnya sebagai cabang. Atau bahkan tidak perlu ada PLN agar masyarakat atau Pemkot punya inisiatif sendiri untuk mengatasi kebutuhan listriknya.

Tarakan bukan kota besar yang masyarakatnya tidak mampu mendirikan pembangkit listrik sendiri : asal diberi kesempatan untuk itu.

PLN, kalau merasa tidak mampu sebaiknya menyerah: lempar handuk. Jangan mengira hanya PLN yang bisa memproduksi listrik. Masalahnya adalah hanya PLN yang diberikan wewenang untuk mengatur listrik, coba pemerintah beri contoh satu wilayah kecil seperti Tarakan untuk mengatasi listriknya sendiri , pasti bisa lebih baik, apapun jalannya.

Saya seperti menangis ketika berada di Tarakan minggu lalu. saya membayangkan Pemdanya yang sangat begairah membangun, sampai-sampai ingin membuat Tarakan sebagai Singapura mini, membayangkan pengusahanya yang antusias untuk berinvestasi di Tarakan, membayangkan betapa bangganya orang Tarakan akan kotanya yang berkembang pesat belakangan ini. Semuanya itu seperti disiram air keras oleh PLN: ludes.

Memang PLN rugi besar dengan tarif listrik semurah sekarang, tapi pokok permasalahannya adalah bukan karena tarif murah tetapi karena ongkos produksi PLN yang mahal ! Bahwa mengapa PLN memilih pembangkit yang ongkos produksinya mahal, bukanlah urusan rakyat. Rakyat tidak tahu itu ! Itu urusan PLN sendiri.

Rakyat Tarakan pernah membuktikan mau membayar tarif listrik termahal di Indonesia, tidak apa-apa, tapi ternyata kenaikan itu tidak dipakai sebagai kesempatan untuk mengatasi persoalan PLN secara mendasar. Oleh karena itu sebaiknya jangan ada kenaikan tarif dulu. Mengapa dengan kenaikan yang hebat dulu itu PLN tidak mampu mengadakan pembangkit yang ongkosnya murah ? Mengapa kesempatan itu tidak digunakan untuk menarik investor yang mau membangun pembangkit dengan ongkos operasional yang murah ?

Maka, kalau PLN Tarakan yang sudah bebentuk PT ( Perseroan Terbatas ) tidak mampu mengambil keputusan, benar-benar harus di bahas: untuk apa ada PT ?

Itulah beberapa catatan penting yang saya kutip, dengan melihat kondisi yang ada kita sebagai rakyat biasa hanya bisa berharap Kapan......Listrik gak mati - mati......... !!
Mungkin rekan - rekan bisa bayangkan bagaimana kaliau listrik padam selama 9 jam dari pagi sampai sore atau bergilir dari sore hingga malam. Alangkah sedihnya kita , semoga catatan beliau dapat dijadikan cambuk agar kita dapat lebih maju lagi.

Saturday, February 21, 2009

Budidaya Perikanan Dengan Kendalanya

Dalam mengantisipasi merosotnya tangkapan ikan oleh para nelayan di sejumlah daerah akibat persoalan cuaca buruk yang berlangsung lebih lama dan sulit di prediksi oleh para nelayan memaksa mereka untuk lebih bersabar demi menjaga keamanan diri mereka yang juga bergelut dengan kebutuhan hidup yang mau tak mau harus tetap terpenuhi, walaupun kabar gembira yang diberikan pemerintah dengan turunnya harga BBM belum sepenuhnya membuat mereka tersenyum.

Dalam mengatasi permasalahan berikut salah satu upaya yang di ambil adalah dengan melakukan usaha budidaya sebagai pekerjaan sampingan para nelayan apabila kondisi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk melaut dalam jangka waktu lama dan tidak pasti, namun usaha budidaya pun masih terkendala dengan beberapa hal seperti benih, modal, pemasaran.

Untuk benih, sebagian besar benih dengan kualitas unggul masih merupakan benih impor dari luar negeri hal ini disampaikan oleh Direktur Perikanan Budidaya Departemen Kelautan Dan Perikanan namun pihaknya berupaya terus untuk mengembangkan benih - benih ikan dan udang unggulan di balai - balai budidaya perikanan.

Ketergantungan para pembudidaya pada benih produk impor disebabkan induk lokal masih kalah dari induk yang didatangkan dari luar dalam hal kualitas dan kuantitasnya. Selain itu benih yang dibuat oleh pemerinta di balai - balai budidaya belum tersosialisasi kepada mesyarakat seluruhnya.

Dalam hal permodalan juga merupakan salah satu masalah penting, dengan minimnya pendapatan yang diperoleh nelayan dengan penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk menghidupi keperluan sehari - hari mengakibatkan terhambatnya upaya untuk melaksanakan usaha budidaya " jangankan buat modal budidaya, buat makan aja utang sana utang sini "
peran koperasi nelayan sangat vital dalam hal ini.

Selain menghadapi permasalahan tentang benih dam modal nelayan juga menghadapi permasalahan dalam hal pemasaran. Dengan adanya krisis keuangan global yang mengakibatkan permintaan kebutuhan hasil laut dari negara luar mengalami perubahan permintaan baik dari jenis, ukuran maupun harga, hal tersebut harus dicermati dengan baik dengan memberikan masukan kepada para nelayan hendaknya sebelum melakukan kegiatan budidaya agar dikemudian hari tidak mengalami kerugian

Thursday, February 19, 2009

Jepang berbagi dengan Tarakan

Dalam dialog bersama Walikota dengan pejuang kebersihan di Tarakan sempat ditanyakan mengapa warga setiap bulannya harus membayar sampah sebesar Rp 2.000 padahal pemerintah meminta warga mengolah sampah sendiri. Hal itu ditanggapi oleh walikota Tarakan bahwa iuran sampah yang dimanfaatkan juga untuk pengelolaan sampah itu tidak sebanding dengan yang di terapkan di Jepang. Tetsuya Ishida mengatakan, di Kitakyushu warganya membayar sebesar Rp 5.000 untuk satu plastik ukuran besar yang digunakan untuk sampah mereka selain yang diolah.

Ishida bebagi pengalaman kepada masyarakat Tarakan, di Kitakyushu 40 tahun yang lalu terlihat sangat kumuh namun perjuangan warganya dalam mengurangi sampah dan dengan mengolahnya membuat Kitakyushu menjadi kota yang bersih, dengan berusaha menciptakan kondisi lingkungan dengan emisi nol dan memanfaatkan limbah industri.

Kehadiran Ishida di Tarakan dalam rangka melakukan survey melihat kondisi sampah di Tarakan, berdasarkan survey itu JICA (Japan International Coorporation Agency) pemerintah Jepang berpikir tentang bantuan yang akan diberikan untuk Tarakan dalam hal pengolahan sampah atau mengurangi sampah.

Bentuk kerjasama tersebut dengan membuatkan konsep dan teknologi bagaimana cara pengolahan sampah sementara masalah keuangan akan bekerjasama dengan pemerintah. Separuh sampah domestik sudah dijadikan kompos oleh warga Tarakan sejak tahun 2006 kemudian langkah yang di ambil adalah bagaimana cara pembuatan kompos dengan efisien melalui teknologi yang ada

Namun hal yang paling penting adalah peran Pemerintah Kota dan masyarakat Tarakan sendiri dalam menciptakan kondisi lingkungan yang diharapkan demi terciptanya Tarakan bebas sampah .

Wednesday, February 18, 2009

Tahap Kelima

Selama proses menunggu masa panen kepiting yaitu sekitar 15 - 20 hari ada baiknya kita menjaga kondisi kepiting tetap terjaga hingga pada saat ganti kulit tiba. Pemberian pakan selama 2 hari sekali sangat penting untuk dilaksanakan. Menjaga kondisi air tetap stabil dengan sering melakukan proses keluar - masuknya air. Hal penting yang harus kita perhatikan adalah menjaga kepiting agar tidak terlalu banyak di selimuti oleh lumut yang diakibatkan dari zat organik yang terkandung dalam air.


Lumut yang menutupi bagian badan dari kepiting dapat menghambat proses pergantian kulit yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian kepada bibit kepiting tersebut karena sifat dasar lumut yang mengikat. Upaya dalam mengatasi permasalahan tersebut kita dapat mengambil langkah dengan mengikutsertakan hewan yang digunakan sebagai bio-katalisator disini , yaitu dengan mengikutsertakan ikan bandeng.

Bandeng merupakan hewan pemakan tumbuhan(herbivora) yang sangat bermanfaat dalam membatu menghilangkan lumut yang terdapat pada kepiting sehingga tingkat kematian bibit kepiting akibat lumut yang menempel dapat diperkecil. Selain kita budidaya kepiting soka juga dapat memperoleh hasil dari ikan bandeng yang kita tanam ya.....sambil bertambak kepiting soka ikan bandengpun kita peroleh.Kebutuhan bandeng sebagai bio-katalisator kita sesuaikan juga dengan luas tambak yang kita gunakan.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi rekan petambak maupun rekan pembaca semuanya, selanjutnya kita tunggu saat panen tiba.....

Tuesday, February 17, 2009

Byar.....Pet

krisis listrik yang berkelanjutan di Tarakan yaitu dengan diadakannya pemadaman listrik bergulir membuat sebagian besar masyarakat geram, apalagi dengan dilontarkan rencana kenaikan tarif Dasar Listrik (TDL) oleh pemerintah setempat, sekitar 120 orang perwakilan ketua - ketua RT di Tarakan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Ketua Rukun Tetangga (FKKRT) mendatangi kedung DPRD dengan tujuan menyampaikan aspirasi untuk menolak kenaikan TDL serta pemadaman bergilir dapat dihentikan.


FKKRT menyampaikan dalam penyampaian aspirasi mereka juga dihadirkan pihak PLN serta perwakilan dari Pemerintah Kota namun penyampaian dari pihak DPRD yang saat itu dihadirir oleh Wakil Ketua DPRD tidak dapat menghadirkan pihak PLN maupun Pemkot dalam acara hearing itu dengn alasan bahwa Dewan harus melalui prosedur ketika ingin mengundang instansi lain dalam agenda hearing.

Sampai dengan acara hearing selesai pihak DPRD hanya menampung satu permintaan masyarakat yaitu TDL tidak naik sementara mengenai hal pemadaman bergilir masih akan di bicarakan lebih lanjut dengan pihak Direksi PT PLN yang rencananya akan di laksanakan tanggal 17 Februari.

Wednesday, February 11, 2009

Tahap Ke Empat

1. Setelah karamba sebagai tempat penyimpanan kepiting sudah siap maka selanjutnya adalah mempersiapkan bibit kepiting yang akan dibudidayakan. Ukuran bibit kepiting yang kita pilih tergantung dari kebutuhan dan keinginan kita dengan memperhatikan permintaan pasar. Dalam hal ini bibit yang saya pilih dan saya gunakan adalah bibit kepiting dengan ukuran 80 gram sampai dengan 140 gram tiap ekornya, pemilihan bibit dengan ukuran tersebut memiliki kriteria proses pergantian kulit lebih cepat dibandingkan dengan bibit kepiting yang lebih besar atau diatas 150 gram per ekornya. Pemilihan jenis kelamin tidak terlalu mempengaruhi, jadi bisa bibit kepiting dengan jenis kelamin apa saja.



2. Setelah bibit kepiting siap, proses selanjutnya adalah memotong kedua capit dan ke enam kaki jalan serta memotong satu kaki renangnya(membuat stress), pemotongan satu kaki renang juga bertujuan untuk mempercepat proses ganti kulit atau moulting. Hal ini sudah kami buktikan dengan mangambil contoh bibit yang kedua kaki renangnya tidak di potong dengan bibit yang satu kaki renangnya di potong, proses ganti kulit yang dialami bibit kepiting dengan satu kai renang dapat diperoleh dalam jangka waktu 15 hari sedangkan bibit yang kedua kaki renangnya tidak di potong mengalami proses ganti kulit lebih lama yaitu mencapai waktu 30 - 35 hari. menurut pakar perikanan dan kelautan proses ganti kulitnya kepiting dapat di buat tanpa memotong kakinya, lihat disini yaitu dengan menyuntikan ekstrak bayam.

3. Proses adaptasi terhadap kepiting bisa dilaksanakan maupun tidak menyesuaikan dengan kondisi lingkungan daerah masing - masing. Setelah bibit sudah dipotong kemudian di masukan kedalam karamba yang telah disiapkan sebelumnya. Proses memasukan bibit di anjurkan pada saat hari mulai gelap atau pada saat pagi hari dimana kondisi suhu udara sudah atau mesih sejuk, hal ini membantu agar bibit yang sudah dipotong dan dalam keadaan stres tidak kaget atau tambah stress.



4. Setelah biibt kepiting dimasukan kedalam karamba, selanjutnya kita tinggal menunggu proses ganti kulit pada 15 hari kedepan. Namun tidak menutup kemungkinan 1 - 2 hari setelah memasukan bibit ada beberapa ekor bibit yang langsung mengalami proses ganti kulit tetapi prosentasenya tidak mencapai 5 persen dari bibit yang kita tebar.

5. Pemberian pakan selama menunggu proses ganti kulit sangat diperlukan dengan memberikan pakan berupa potongan ikan kecil yang di berikan setiap 2 hari sekali, hal ini membantu menambah berat kepiting setelah ganti kulit.

Buat Blog

Ternyata setelah bolak - balik ke rumah tetangga, tengok kanan - tengok kiri, dan akhirnya saya rasakan sendiri kalau buat blog itu bikin pusing kepala juga ya.....? maklum namanya juga pemula yang masih jauh pengetahuannya soal dunia blogger, Tapi dari hal ini saya dapetin hikmah yang sangat berharga buat diriku, dalam mencapai suatu tujuan, tidak mudah cita - cita yang kita harapkan memang tidak dapat kita peroleh dengan mudah dan gampang. Banyak jalan yang harus kita tempuh, waktu yang kita gunakan dan lain sebagainya.


Namun apabila tujuan yang kita inginkan tercapai dengan penuh perjuangan tadi rasanya beda banget, adanya rasa senang, Kok...bisa juga ya...? pokoknya seru deh.....

Terima kasih banyak buat kang rohman dengan blognya.....hatur nuhun pisan....
saya jadi bisa buat blog yang sesuai dengan aturan maupun hal lainnya. Saya masih harus terus belajar dan belajar lagi tentang blog.

Tuesday, February 10, 2009

Gara - Gara Bayam

Trubus online

Yushinta Fujaya Muskar kenal baik Popeye karena Popeye The Sailor Man fi lm kartun favoritnya ketika kanak-kanak. Tokoh rekaan Elzie Crisler Segar itu bertubuh kuat berkat mengkonsumsi daun bayam. Kebiasaan itulah yang menginspirasi Yushinta membikin kepiting lunak setelah disuntik ekstrak daun bayam.


Mula-mula Yushinta meriset kandungan senyawa aktif dalam daun bayam Amaranthus tricolor. Di dalamnya doktor Biologi dari IPB itu menemukan ekdisteroid, hormon yang menyebabkan Popeye kuat. Hormon itu persis yang ditemukan dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, Makassar, pada kepiting bakau yang hendak moulting alias berganti kulit. Secara periodik anggota keluarga Crustaceae itu moulting untuk tumbuh menjadi besar.

Sayang, hormon ekdisteroid di tubuh Sylla sp jumlahnya sedikit, 500 nanogram per kg bobot tubuh. Sebab itu sebuah proses moulting memakan waktu lama hingga 30 hari. Andai hormon ekdisteroid cukup banyak, proses ganti kulit itu bakal lebih cepat. Sumbernya? Ya ekstrak bayam itu. Agar ekstrak bayam itu mengeluarkan ekdisteroid ia difraksinasi. Proses pemisahan senyawa itu diulang sampai 4 kali. Proses itu tuntas setelah senyawa aktif itu dipurifikasi alias dimurnikan supaya bebas zat pengotor. Dari 1 kg bayam diperoleh 250 mg ekdisteroid.

Pangkal kaki

Berikutnya Yushinta mendatangkan 200 bibit kepiting dari perairan Takalar, 2 jam perjalanan dari Makassar. Bibit berbobot 20 g per ekor itu dibesarkan ditambak dalam keranjang bambu berukuran 10 cm x 15 cm. Salinitas dijaga 30 ppm seperti habitat asli. Tiga bulan dipelihara, kepiting-kepiting itu diseleksi dan terpilih 100 ekor berbobot 80 - 100 g per ekor. Mereka lalu dipindah ke bak pembesaran 2 m x 2 m yang diberi sekat-sekat. Satu sekat untuk seekor kepiting.

Kepiting-kepiting itu disuntik ekstrak bayam. Yang diinjeksi adalah ruas-ruas di pangkal kaki dengan selaput lunak. Dosis injeksi 1/10 mg per kg bobot tubuh. Dari pangkal kaki itu ekdisteroid ekstrak bayam beredar ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh darah. Hasilnya, di hari ke-4 kepiting siap moulting. Menginjak hari ke-16 sekitar 70% kepiting moulting sempurna. 'Uji di habitat asli memakai jumlah kepiting sama memberi hasil lebih baik. Sukses ganti kulit mencapai 80%,' kata Yushinta.

Menurut Ir Sulaeman, Mphil, peneliti di Balai Riset Budidaya Air Payau Maros, apa yang dilakukan Yushinta itu logis. 'Keluarga Crustaceae memiliki ekdisteroid yang diproduksi menjelang mereka berganti kulit atau bertelur. Tapi jumlahnya sedikit,' katanya. Salah satu cara supaya cepat moulting selama ini dengan memberi ekdisteroid sintetis. 'Tapi yang kimia itu mahal sehingga tidak ekonomis,' tambahnya. Dosis 5 mg mencapai Rp3-juta. Namun, jika dipakai bayam, selain murah juga tersedia melimpah.

Paku-pakuan

Menurut Yushinta selain bayam, keluarga paku-pakuan juga potensial dijadikan sumber hormon ekdisteroid. 'Jumlah senyawa aktif di dalamnya banyak,' katanya. Sayang, paku-pakuan lebih sulit didapat karena mayoritas berada di daerah dataran tinggi. Sebab itu pula Yushinta lebih fokus memakai bayam.

'Yang paling sulit menentukan dosis tepat hormon ekdisterod agar kepiting mau cepat berganti kulit,' ucap Yushinta. Eksperimen yang berlangsung sejak 2007 itu seringkali terjegal. Jika jumlahnya kurang dari 1/10 mg per bobot tubuh, kepiting berganti kulit seperti di alam, selama 30 hari. Namun jika dosis di atasnya, kepiting pun mogok ganti kulit. 'Batas toleransinya 10% dari 1/10 mg itu,' kata ibu 2 putri itu.

Kendala lain, stres. Maklum kepiting yang telah disuntik setiap hari diangkat dari bak untuk ditimbang bobot tubuhnya. Kondisi itu juga terjadi kala pergantian air 100% setiap hari. Hasilnya kurang dari 5% yang berganti kulit. Namun setelah volume pergantian air hanya 10% per hari, kondisi itu berangsur membaik. 'Persentase moulting mencapai 70%,' ungkap Yushinta yang akan menerapkan teknik serupa untuk rajungan Porturus pelagicus.

Kabar baik

Keberhasilan penelitian Yushinta itu sesungguhnya menjadi kabar baik bagi peternak, kalangan industri kepiting, bahkan penikmat kuliner laut. Bagi peternak kepiting soka - kulit lunak - bisa dibuat sendiri, tanpa bergantung dari tangkapan alam. Maklum kepiting soka favorit karena harganya 2 kali lipat kepiting biasa yang di Makassar mencapai Rp150.000 per kg.

Industri kepiting untuk ekspor yang selama ini selalu kerepotan memisahkan daging dan kulit pun diuntungkan. 'Dengan cara ini kami tidak usah memutilasi untuk mendapat kepiting soka,' kata Hengky Yanto, eksportir kepiting di Makassar. Mutilasi dilakukan dengan memotong pangkal kaki kepiting. Menurut Yushinta cara seperti itu malah membuat bobot kepiting stagnan. 'Bobot kepiting yang dibesarkan selama sebulan rata-rata 130 g. Dengan mutilasi tidak terjadi kenaikan bobot, hanya 100 g,' ujarnya.

Nah, penikmat kepiting yang biasa disibukkan oleh aktivitas menyisihkan cangkang kini bisa lega. 'Makan kepiting biasanya habis 10 menit hanya untuk mengupas kulitnya,' kata Fachry, peternak bandeng di Sulawesi Selatan. Kehadiran Crustaceae yang bisa berganti kulit lunak menjanjikan begitu banyak keuntungan. Seperti Popeye yang selalu mengalahkan Brutus setelah mengkonsumsi bayam. (Lastioro Anmi Tambunan)

Thursday, February 05, 2009

Ide Awal

Kendala terbatasnya media tulisan maupun elektronik sabagai referensi yang saya cari dalam membudidayakan kepiting soka serta kondisi letak geografis daerah dimana saya tinggal merupakan salah satu tantangan yang sangat membangkitkan semangat saya sacara lahir maupun batin. Oleh karena itu dengan kemampuan terbatas serta ilmu yang masih dangkal yang saya miliki dalam membuat blog ini.


Dengan niat ingin membantu rekan - rekan yang ingin membudidayakan kepiting soka agar dapat mempermudah merealisasikan keinginannya, maka dengan sambil belajar terus saya sampaikan bagaiman cara membudidayakan kepiting soka yang saya tulis dalam blog ini berdasarkan referensi yang diambil dari pengalaman saya langsung dilapangan, walaupun mungkin di beberapa daerah tidak dapat diaplikasikan sesuai dengan pengalaman saya, tapi saya harapkan dengan tulisan ini dapat membantu sedikit dalam memberikan gambaran kepada rekan - rekan bagaimana cara membudidayakan kepiting soka.

Blog ini saya buat atas dasar kecintaan saya kepada bidang perikanan dan budidaya, saya persilahkan dengan senang hati kepada rekan yang ingin memberikan saran, kritik, ide, gagasan, peluang usaha lain, dalam blog ini demi kemajuan kita bersama.

Potensi Besar

Potensi besar di bidang kelautan dan perikanan yang dimiliki daerahku, merupakan salah satu sumberdaya alam yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Hal ini dapat dilhat dari banyaknya areal di daerahku yang dumanfaatkan sebagai lahan tambak untuk budidaya udang dan bandeng, berbagai macam jenis ikan yang dapat diperoleh para nelayan seperti ikan jenis kakap merah, ikan putih, ikan merah, bawal putih, kegiatan budidaya rumut laut dan lain sebagainya yang sangat mudah di dapat oleh nelayan. Namun sampai saat ini upaya untuk mengoptimalkan potensi yang ada dirasakan masih sangat kurang.


Penyebabnya antara lain adalah kurangnya bantuan berupa modal yang di berikan kepada nelayan, harga pasar yang berubah akibat krisis keuangan global, kuranganya inisiatif nelayan sendiri untuk menciptakan peluang usaha baru yang berkaitan dengan bidang kelautan dan perikanan, iklim dan cuaca yang saat ini agak susah di prediksi.

Salah satu contoh sekarang banyak lahan tambak yang tidak di operasional lagi oleh pemiliknya karena kita tahu harga udang di pasaran luar negeri menurun dan mengalami perubahan ukuran udang untuk kosumsi serta berubahnya permintaan jenis ikan konsumsi kepada jenis ikan yang harganya lebih murah.

Melihat hal tersebut diatas saya mencoba satu upaya alihfungsi tambak dari yang biasanya digunakan untuk budidaya udang maupun bandeng saya gunakan untuk budidaya kepiting soka, hal ini saya lakukan dengan alasan pertama niat awal saya sejak makan makanan aneh yang baru saya makan, pasar kepiting yang tidak terpengaruh oleh krisis keuangan global, masih sedikitnya petambak yang membudidayakan kepiting soka.

Dengan penuh perjuangan, pengorbanan waktu, materi, ide, gagasan serta saran masukan kawan - kawan dekat selama kurang lebih 5 bulan akhirnya tercapainya keinginan untuk membudidayakan kepiting soka, berbekal karamba yang dibuat secara tradisional saya bisa menebar bibit sebanyak 16.000 ekor ukuran 9 - 10 dengan tenggang waktu 15 hari sudah bisa diambil hasilnya.

Saat ini sudah ada beberapa orang yang memiliki keinginan untuk membudidayakan kepiting soka namun tidak memiliki maupun mampu untuk menyewa areal tambak, ini juga merupakan salah satu kendala yang dihadapi.

Dengan niat tulus membatu dan menghargai orang yang memiliki keinginan berusaha untuk meningkatkan kesejahteraannya. Saya ajak mereka untuk memanfaatkan lahan tambak saya untuk digunakan oleh mereka, kebetulan lahannya cukup luas dan diperkirakan dapat di gunakan untuk menebar bibit sampai 100.000 ekor lebih.

Semoga Allah SWT selalu memberikan ridho, petunjuk dan hidayahnya serta selalu dalam lindungan Nya dalam menjalankan usaha ini.

Produk Murah Kian Diminati

Kompas

Produk perikanan dengan harga relatif murah kini semakin diminati pasar tujuan ekspor utama, yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa. Beberapa produk perikanan yang diminati meliputi nila, patin, dan lele. Selain itu terjadi pergeseran konsumsi udang dari ukuran 50-60 ekor per kilogram menjadi 70 per kilogram.


Kecenderungan permintaan ikan dengan harga murah berlangsung sejak akhir 2008. hal ini dinilai sebagai dampak krisis keuangan global. Permintaan produk olahan juga mulai bergeser ke ukuran yang lebih kecil. Dicontohkan, permintaan produk daging (fillet) nila mengalami pergeseran ukuran dari 400 gram menjadi 200 gram, sementara permintaan terhadap produk bahan baku mengalami peningkatan.

Direktur Pemasaran Luar Negeri Departemen Kelautan dan Perikanan, Saut Hutagalung mengatakan, pemerintah sedang menjajaki harmonisasi sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan dengan negara mitra, yakni Mesir dan Rusia. Pihaknya menargetkan kesepakatan itu ditandatangani sebelum Juni 2009. Sebelumnya, harmonisasi sistem jaminan mutu dan keamanan telah dilakukan oleh Korea Selatan dan China.

Ketua Asosiasi Pengusaha Coldstorage Indonesia Johan Suryadarma mengatakan, Harga ikan nila, lele, dan patin di pasar internasional saat ini berkisar 2 dollar AS per kilogram.

Kecenderungan pergeseran pola konsumsi ke ikan yang harganya lebih murah harus diikuti dengan kewaspadaan dan kejelian membaca situasi pasar. Penyebabnya pergeseran pola konsumsi ikan di pasar ekspor juga dibarengi dengan penurunan harga produk. Harga udang misalnya, turun sekitar15-30 persen, "Pengusaha jangan berbondong - bondong membudidayakan produk ikan yang disukai pasar. Ini supaya harga tetap terjaga, tidak anjlok," kata Johan.

Penurunan harga produk ekspor harus disikapi dengan mempertahankan produksi dan mutu perikanan guna mempertahankan volume ekspor. Bertahannya volume ekspor akan menopang efisiensi produksi dan keberlangsungan ekspor.

Sementara itu, sejumlah pelaku usaha pengolahan ikan mengeluhkan penurunan pasokan bahan baku udang untuk pasar ekspor. Sejak Januari 2009, penurunan pasokan berkisar 10-20 persen. Menurut Johan, penurunan pasokan itu merupakan dampak ketidaksiapan pembudidaya dalam menghadapi pola konsumsi. Sebagian pembudidaya cenderung memilih untuk mengurangi produksi.

Ketimpangan antara pasokan produk dan permintaan itu harus disikapi oleh pembudidaya dengan tetap memproduksi produk perikanan yang bervariasi dan sesuai dengan selera pasar. Guna menjamin mutu dan kualitas produk ekspor, DKP telah mendaftarkan perusahaan eksportir yang memenuhi syarat ke negara tujuan ekspor, yakni 300 unit pengolahan ikan (UPI) ke Korea, 84 UPI ke China, dan 136 UPI ke Uni Eropa.

Saturday, January 31, 2009

Dana Awal Rp 528 juta, Kini sudah Rp 3 M

Radar Tarakan
31 Januari 2009


Ketua Koperasi LEPPM3 Tarakan Ali Sadikin menyebutkan perputaran dana bergulir yang diberikan kepada masyarakan pesisir khususnya untuk modal para nelayan sejak 3 tahn lalu, saat ini sudah menjadi sekitar Rp 3 miliar. Dari modal awal yang diluncurkan sekitar Rp 528 juta dana swakelola dengan jumlah nasabah 350 nasabah dan yang teken nota kesepahaman 650 nelayan.


"60 persen dana yang kami salurkan baik secara kelompok maupun perorangan berjalan lancar, sedangkan 40 persen tidak lancar. Baik itu macet, maupun lambat. Meskipun demikian, yang tidak lancar akan terus kami tata ulang atau bina lagi, agar kedepannya bisa melunasi pinjaman mereka sedangkan yang lancar akan kami tingkatkan terus," terang Ali.

Dikatakan, ketidaklancaran pengembalian pinjaman ini, dikarenakan SDM yang tidak memahami proses berjalan dana bergulir ini. "salah mereka langsung teken MoU. Tanpa memikirkan kesanggupan mereka untuk melunasi. Mereka bisa mengajukan jangka waktu mereka bisa melunasi sesuai dengan kesanggupan mereka, dan kami bisa terima hal itu. jadi pengembaliannya bisa berjalan lancar sesuai dengan kemampuan mereka," jelas Ali.

Selain itu juga, yang menjadi masalah bagi nelayan selama ini adalah adanya kebijakan mikro yang dikeluarkan oleh pemerintah terutama tentang harga BBM, yang otomatis sangat mempengaruhi penghasilan para nelayan kecil.

"Kami akan perketat seleksi penerimaan bantuan keuangan, agar dana yang diberikan bisa kembali. Pinjaman yang kami berikan terutama pada nelayan maksimal Rp 5 juta, sedangkan untuk budidaya 5 - 10 juta rupiah," sebutnya. Dana dari pusat saat ini sudah lunas diselesaikan oleh koperasi, saat ini pihaknya sudah mandiri.

Friday, January 30, 2009

Bisnis Kepiting yang Tak Terpengaruh Krisis Ekonomi Global

Radar Tarakan
30 Januari 2009


Seperti yang dialami CV. Globalindo Sea. Menurut Direkturnya, Supriadi S. krisis global tidak mempengaruhi bisnis pemasaran kepiting keluar negeri. Bahkan saat ini sudah dipasarkan sampai ke beberapa wilayah Asia. Diantaranya Hongkong, Cina, Taiwan, Singapura dan Malaysia. " dulunya sebelum krisis hanya 200 kilogram sekali mengirim. Sekarang sudah 250 kilogram," kata Supriadi.


Biasanya, Supriadi memasarkan kepiting yang masih hidup ke negara - negara tersebut. Terutama kepiting jenis bakau(Scylla serrata) yang sangat menjanjikan. Baik yang berjenis kepiting jantan, betina maupun banci. "Yang betina banyak disukai warga Tiongkok, Taiwan dan Hongkong. Sedangkan kepiting jantan banyak dikirim ke Malaysia dan Singapura," ungkapnya.

Rencananya CV. Globalindo Sea juga akan mencoba menjajaki Amerika. Ini di upayakan berjalan pada tahun ini. Dalam sehari, rata - rata kepiting yang dikirim ke luar negri melalui Jakarta mencapai 10 ton per harinya. " ini hasil yang cukup menggembirakan" ujar tersenyum.
Soal keamanan pengiriman kepiting ke Jakarta, kata Supriadi masih aman. Ini dikarenakan pengiriman yang sangat cepat. Pihaknya memanfaatkan jasa Mandala Airlines yang lancar.
Meski begitu, peningkatan pemasaran kepiting keluar negeri, ada juga kendala yang di hadapi.

Seperti terbatasnya peti gabus atau styfoam box yang digunakan sebagai packing kepiting.
Selain kekurangan peti gabus, pihaknya juga mesti mendatangkannya dari Makassar yang jaraknya terbilang jauh, juga dengan ongkos besar. Karenanya, para pelaku usaha ini berharap kiranya ada investor yang akan membangun pabrik peti gabus di kota ini. "Kalau bisa pemkot men-suport keinginan kami. Agar kebutuhan peti gabus bisa teratasi," harapnya.

Thursday, January 29, 2009

Usaha tambak di Juata masih prospek

Radar Tarakan 29 Januari 2009

Dinas Kelautan dan perikanan (DKP) Kota tarakan belum lama ini mengujungi beberapa lokasi kegiatan budidaya rumput laut di sekitar wilayah Juata. Kunjungan yang dilakukan dengan menggunakan speedboat pengawasan milik DKP sendiri, pihak DKP memulai perjalanan dengan menyusuri pinggiran pantai sambil melihat kondisi hutan mangrove di sepanjang pesisir pantai.
Dalam pantauannya, sebagian mangrove telah habis oleh penebang liar, namun itu tidak banyak mengingat masih ada beberapa tempat lainnya yang keberadaaan mangrove masih terjaga dengan baik, bahkan ada yang tumbuh secara alami.


"Kami harap tidak ada lagi yang mengganggu mangrove, apalagi sudah ada Perdanya," kata Kepala DKP Syahrintan. Beberapa lokasi sempat dikunjungi oleh DKP diantaranya budidaya rumput laut di wilayah pesisir Belalung, Juata Laut serta di sekitar manggatal dan Andulung.
beberapa lokasi itu sempat sedang panen. hasilnya cukup menggembirakan,"usaha ini dapat dikembangkan menjadi salah satuusaha yang prospektif bagi masyarakat kita dimasa yang akan datang."

Berdayakan tambak non produktif

Radar Tarakan

29 Januari 2009

DKP beri bantuan bibit rumput laut

Memberdayakan kembali tambak non produktif di Tarakan. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) memberikan bantuan bibit rumput laut(Gracilaria sp) kepada 10 petambak binaan LEPP3M Sejahtera dan sekitar 140 petambak sebagai stimulus untuk mengembangkan budidaya ini lebih baik.
"10 petambak yang mendapatkan bantuan rumput laut ini, sudah kami seleksi yakni petambak yang benar - benar mau niat untuk bekerja. Mereka juga terpilih karena tambak udang sudah tidak produktif lagi. Besok (hari ini) kami berikan," kata Ali Sadikin Ketua Koperasi LEPP3m kemarin.


Selain 10 petambak ini, pihak koperasi juga akan memberikan bantuan rumput laut kepada 5 petambak lainnya dengan jenis rumput laut yang berbeda. Mereka akan mendapatkan bibit Euchema sp. Bibit ini berfungsi sebagai bahan obat - obatan, kosmetik dan keperluan lainnya. Sedangkan Gracilaria sp berfungsi sebagai bahan makanan seperti agar - agar.
"Gracilaria yang diberikan kepada petambak ini nantinya akan di polyculture di dalam tambak bersama udang dan ikan. Untuk tahap awal para petambak tidak diperbolehkan menabur bibit yang didalamnya ada ikan bandeng besar, karena bisa jadi makanan ikan dan akan habis," saran Ali.
Oleh karena itu pengembangbiakan bibit rumput laut ini baru bisa dimasukan secara bersamaan dengan bibit ikan maupun udang.
Menurut Ali, bibit rumput laut ini dijadikan sebagai penghasilan tambahan para petambak udang. Mengingat beberapa bulan terakhir ini pendapatan para petambak udang cenderung menurun. Karena kualitas udang serta kualitas di lokasi tambak udang itu sendiri sudah tidak produktif lagi.
dengan hadirnya bibit rumput laut dilokasi tambak. Kondisi yang diharapkan lebih membaik mengingat rumput laut dapat mereduksi racun. " sehingga tidak merubah pola pembasmian hama tanpa menggunakan racun seperti selama ini. Karena penggunaan pembasmi hama selama ini justru mengurangi kualitas tambak", tuturnya.
" ini sudah terbukti, sebelumnya telah dilakukan ujicoba oleh BBAP (Balai Budidaya Air Payau) di Maros, Sulsel. Hasilnya sangat bagus, diharapkan ini menjadi salah satu solusi mengatasi masalah para petambak selama ini", harapnya.
Disebutkan 1 ton rumput laut bisa menghasilkan 3-4 kwintal rumput laut kering. Rata - rata per kilogramnya di jual dengan kisaran harga Rp. 2.500 hingga Rp. 4.000. Untuk pasarannya sendiri, beberapa daerah siap menerimanya. Kabupaten Kutim biasanya menerima rumput laut jenis Gracilaria. Sedangkan jenis Euchema sp bisa di jual ke Tawau, Malaysia.
Pemberian bibit rumput laut kepada 10 petambak itu mencapai 1,5 ton yang sumber bibitnya didapatkan dari program hibah DKP Kaltim.
Kata Ali, sebenarnya totalnya adalah 2 ton. Namun 5 ton lainnya rusak dikarenakan lamanya berlayar dari samarinda ke Tarakan."kapal pengankutnya terlambat datang yang seharusnya 5 hari menjadi 1 bulan karena dilayarkan oleh Adpel, sehinnga 5 ton rusak", ungkap Ali

Wednesday, January 28, 2009

Fatwa MUI

Radar Tarakan

Rabu, 28 Januari 2009

Tunggu Surat Resmi dari MUI Pusat

TARAKAN–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan hingga kemarin belum bisa merencanakan tindakan yang harus dilakukan terkait dengan fatwa rokok haram hukumnya untuk anak-anak, remaja, dan wanita hamil. Serta rokok juga diharamkan diisap di tempat umum yang dikeluarkan Forum Ijtimak Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III.

Pasalnya, MUI Tarakan sampai saat ini belum menerima surat resmi dari MUI Pusat terkait fatwa itu. Padahal seperti disampaikan Sekretaris MUI Tarakan Syamsi Sarman, surat tersebut sangat dibutuhkan MUI untuk dijadikan dasar bukti kepada masyarakat nantinya saat melakukan sosialisasi.



“Sampai saat ini masalah fatwa rokok haram hukumnya untuk anak-anak, remaja, dan wanita hamil termaksud di tempat umum, informasinya kan baru diketahui melalui media elektronik, media cetak. Sementara yang kami membutuhkan adalah aslinya dari MUI Pusat untuk bukti nantinya kepada masyarakat,” kata Syamsi kepada Radar Tarakan kemarin.

Meski belum ada kebijakan pasti dari MUI Pusat, namun Syamsi mengaku tetap akan menyikapi masalah ini dengan secepatnya. Salah satu tahapan awal yang akan dilakukan apabila surat resmi dari MUI Pusat telah diterima, akan menggelar rapat dengan komisi fatwa dengan pengurus harian MUI.

“Begitu surat resminya keluar, kami akan langsung mengadakan rapat membahas masalah ini. Seperti membahas bagaimana cara mensosialisasikan kepada masyarakat. Rapat nanti Insya Allah sudah ada hasil yang pasti masalah fatwa rokok ini,” jelasnya.

Saat ini, Syamsi mengatakan pihaknya masih tetap sependapat dengan MUI Pusat tentang fatwa ersebut. Untuk itu dirinya juga mengharapkan kepada pihak pemerintah agar bisa menyikapi dengan positif masalah fatwa rokok ini.

“Mungkin sebagai contoh solusinya ketika fatwa ini memang diterapkan, untuk di tempat umum mungkin pemerintah bisa membuat perda melarang merokok di tempat umum. Sedangkan khusus anak-anak, Pemkot Tarakan dalam hal ini Dinas Pendidikan (Disdik) mungkin bisa menerapkan yang namanya zona bebas rokok di seluruh sekolah-sekolah,” sebutnya.

“Ini dimaksudkan agar baik siswa maupun guru tidak yang boleh merokok di sekolah. Dan untuk ibu hamil akan melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan untuk memberikan sosialisasi kepada ibu-ibu hamil bahwa rokok hukumnya haram bagi mereka,” lanjut Syamsi Sarman.

KALANGAN PENDIDIK SUDAH MENERAPKAN

Terkait dengan dikeluarkannya fatwa haram merokok bagi sejumlah kalangan dan tempat umum yang dikeluarkan oleh MUI Pusat terlebih dahulu diterapkan di sejumlah sekolah yang ada di Tarakan. Beberapa di antaranya adalah SMP 3 Tarakan dan SMA 1 Tarakan yang melarang karyawannya apalagi siswanya merokok di lingkungan sekolah.

“Untuk larangan merokok sudah kita mulai dari lingkungan sekolah. Dimana semua pegawai dilarang merokok di lingkungan sekolah dan itu juga sesuai dengan tata tertib di sini,” kata Kepala SMP 3 Tarakan Akhmad Yani yang ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Secara pribadi ia menyetujui dikeluarkannya fatwa larangan merokok di tempat umum itu.

“Jadi kalau bagi perokok ada tempat yang memang sudah disiapkan khusus merokok seperti yang sudah ada di bandara-bandara besar. Kalau secara pribadi sih saya setuju kalau merokok di tempat umum dilarang,” ujarnya.

Hal tersebut tidak menutup kemungkinan diterapkan juga di Tarakan. “Mungkin nanti ada tempat khusus perokok jadi tidak perlu merokok di tempat umum seperti yang difatwakan MUI,” ujarnya.

Dalam tata tertib tersebut ada sanksi yang diberikan kepada yang melanggar. Ia menjelaskan untuk peringatan pertama 3 kali teguran lisan dan 3 kali teguran tertulis. Selanjutnya jika masih melanggar akan diberikan surat tidak puas dari atasan yang berarti pemberhentian atau mutasi sesuai dengan aturan yang ada.

Pemberlakuan no smoking area juga diberlakukan di SMA 1 Tarakan seiring dengan diberikannya penghargaan sebagai juara lomba pembelajaran sekolah bertaraf internasional dan keberhasilan meraih ISO. Wilayah larangan merokok di sekolah ini berlaku untuk para guru, staf dan semua yang melakukan aktifitas di area sekolah SMA 1. “Di samping sebagai syarat sekolah bertaraf internasional kami juga ingin SMA 1 bebas asap rokok demi terwujudnya sekolah yang sehat,” tutur Wakil Direktur Bidang Kesiswaan Wety. (kik,*/rt-4)